Kamis, 17 Maret 2011

Aku dan Keluhanku

Sudah hampir dua tahun kita bersama, mengenal satu sama lain dan saling menganggap satu sama lain tersebut sebagai SAUDARA di bawah naungan organisasi kita tercinta. Tapi mungkin aku bullshit kalau aku bilang kita adalah saudara--itu terkesan terlalu memaksa. Tapi mau bagaimana lagi, aku (yang mungkin jadi orang paling sensitif di antara kalian) sudah ga tau lagi bagaimana caranya supaya kita bisa bareng-bareng dan jadiin semboyan 'Satu' kita itu bener-bener jadi Satu seperti yang seharusnya.

Kita ga ada yang mau mengalah, bahkan untuk sekadar MENGERTI bagaimana teman-teman kita saja sudah tak ada yang mau. Coba kita pikirkan, coba kita renungkan barang sejenak, kita tergabung dalam organisasi ini memang sudah suratan takdir, bukan? Tak ada yang memaksa bagaimana kalian bisa berada di antara kita semua sejak kelas satu dulu. Pikirkan juga bagaimana kita berusaha mengambil sebutir telur dari atas pohon, berusaha bersama dengan satu tekad untuk membuktikan bahwa kita bisa di depan anak kelas tiga. Apa semua itu palsu? Apa kalian melakukan itu hanya lantaran formalitas belaka? Sayang sekali aku ga bisa seperti kalian.

Aku tiap hari ke ruang OSIS, membuka pintunya lebar-lebar supaya barangkali ada diantara kalian yang mau menjenguk atau bahkan beristirahat di sana. Aku menantinya sendirian. Kadang aku seperti orang kurangkerjaan duduk-duduk di ruang OSIS sendirian, tapi semua itu aku lakuin biar kalian sadar pintu yang terbuka itu melambangkan kalau aku menanti kalian semua. Menanti kalian datang menyapa, dan masuk dengan senyum mengembang. Itu sudah lebih dari cukup dari yang aku bayangin. Tapi apa hasilnya? Nihil. Kalian masih bertahan dengan kebahagiaan kalian masing-masing. Aku bukan orang egois yang memaksakan kehendakku agar kalian menemaniku di ruang OSIS. Aku sadar betul kalian punya teman sendiri di luar OSIS, punya pacar yang selalu butuh kalian dan bahkan punya kepentingan masing-masing yang ga bisa ditolerir. Aku tau itu semua kok. Aku juga ga mempersalahkan masalah itu... tapi yang jadi masalah, aku ga ngeliat kalian bisa lapang dada dan ikhlas lahir batin dengan keadaan yang ada.

Givvari, ketua sie enam, aku tau apa yang kamu rasain selama ini. Kamu ngerasa OSIS kita bener-bener jauh dari yang kamu harepin. Kamu ga mau dateng ke ruang OSIS lagi lantaran kamu ga bisa MENERIMA kenyataan bahwa Lina sang ketua OSIS jarang ada di sana... menemanimu dan kita untuk paling tidak bercengkerama dengan kita. Tapi bukan solusi terbaik kalau kamu memilih untuk ANTI terhadap OSIS seperti yang pernah kamu bilang ke aku beberapa saat yang lalu. Bisakah kamu barang sejenak saja melunakkan kekerasan kepalamu itu dan mulai berpikir dingin bahwa bila kamu bisa mengalah dan MENERIMA itu, kamu bisa merubah semuanya bersama-sama aku dan yang lain. Kita tidak perlu menunggu Lina; tidak perlu menunggu dia untuk turun dari kelasnya dan memberi kita semangat seperti seorang Bapak yang mengayomi kita semua. Tapi kitalah yang harus BERINISIATIF mengingatkannya akan posisi yang ia emban.

Dan Lina, sang Ketua OSIS, aku mungkin salah terka tentangmu, tapi biarkanlah aku menguarkan semua argumenku di sini. Kamu mungkin berpikir kamu sudah lelah membuat kita bersatu, hingga memutuskan untuk menomor sekiankan OSIS-mu dari pikiranmu. Tapi bukankah tidak seharusnya kamu bersikap demikian? Kamu pemimpin, seharusnya kamu bisa berpikir lebih baik lagi bagaimana solusi terbaik agar kita bisa jadi satu kembali. Dan mungkin ini hanya saranku... kekompakan kita bisa terwujud bila intensitas kita bertemu jauh lebih sering dibanding sebelum-sebelumnya. Aku ga tau harus memberi ide apa, tapi pikirkanlah. Pikirkanlah suatu hal yang bisa membuat kita sering bertemu dimana pun termasuk ruang OSIS. Tapi itu semua masih terlepas dari kenyataan bahwa kamu sendiri jarang bergaul bersama kita yang sering menunggumu. Cobalah Lin, kamu sms teman-temanmu, kamu ajak adik-adikmu dan semuanya untuk bisa berkumpul bersama tiap hari. Meskipun tidak ada progja, tapi ada baiknya kita berkumpul bersama... memikirkan masa depan yang lebih baik atau setidaknya bergurau layaknya teman akrab. Cobalah, pasti kamu bisa.

Dan sebentar lagi GSS menunggu. Kita tidak memanfaatkan jasa event organizer, itu berarti kita turun tangan sendiri terhadap program kerja terbesar ini. Bayu sang ketua pelaksana sudah berusaha keras memikirkan bagaimana GSS itu bisa terwujud dengan apiknya, tapi adakah di antara kita yang memikirkan apa yang dipikirkan Bayu? Dia pernah bilang ke aku, "Apa GSS ga usah diadain aja? Aku pengennya anak-anak itu berpikir bahwa GSS itu PROGJA BERSAMA, bukan PROGJA SIE 7 SENDIRI." Dan bagaimana kalian mengomentari hal demikian? Faktanya memang begitu kan? Kalau kalian memang MASIH peduli, coba banggakan dan buat GSS benar-benar PROGJA BESAR sekaligus PROGJA TERAKHIR kita yang paling BERKESAN. Bantu Bayu dan sie 7 nya, tengok dia dimanapun dia berada, tanyakan dia bagaimana kelanjutan GSSnya, dan buat dia senang dengan kalian bertanya demikian. Mintalah ke Lina untuk mengadakan rapat seolah-olah kamu memang yang paling NIAT untuk membuat GSS 'KITA' benar-benar menakjubkan.

Beri contoh buat adik-adik kita. Ini semua terserah pada kalian. Aku pengen kalian merenungi apa yang ditulis di atas. Coba setel musik pelan, yang sekiranya bisa dijadikan pendamping renungan, dan baca lagi berulang-ulang sampai kalian bisa menemukan makna bahwa kita itu seharusnya bisa lebih dari ini.

Salam,

Orang yang selalu merindukan kalian agar kembali.

No response to “Aku dan Keluhanku”

Leave a Reply

Ada kesalahan di dalam gadget ini