Rabu, 24 Agustus 2011

Hapeku lebih berharga dari seorang teman, terus kenapa?

Sudah petang. Matahari hampir tenggelam di ufuk barat sana. Langit jingga mulai menguasai atapku. Aku di sini menunggu adzan. Dengan ditemani tuts-tuts laptop sang ayah. Aku tak mengerti apa yang akan aku tulis sore ini. Aku merasa... ini sudah waktunya aku mencurahkan apa yang mengganjal dalam hatiku. Hari ini... sungguh di luar dugaan. Aku tak bisa mengontrol emosiku. Aku marah, aku menangis, aku murka pada temanku. Aku tak taku mengapa aku bisa seganas itu. Tapi aku paham apa yang ada dalam pikiranku. Aku masih kecil, terlampau kecil walau tubuhku menjulang seratus tujuh puluh dua senti seperti ini. Aku kekanakan. Kadang aku tak bisa begitu cepat menerima fakta bahwa banyak orang yang suka sekali menjahiliku, mem-bully-ku seenak jidatnya.

...kau pikir aku siapa?

Hapeku lebih berharga dari seorang teman. Hapeku, meski terbilang merek lama, jadul, sudah rusak, sudah cacat di bagian sana sini, tapi dia yang menemaniku bahkan lebih lama dari teman-teman SMA ku. Umur dia mengenalku hampir 6 tahun. Sedangkan mereka yang kusebut teman? Masih 3 tahunan... hei, ini masalah kasih sayang dan rasa cinta. Aku sayang dengan barang itu, benda yang sudah aku rawat sejak 6 tahun silam.

Dan kamu berani berlaku macam-macam dengan benda itu?

Bahkan pertemenan jarang bisa terajut lama bila kau berkehendak demikian.

Ah sudahlah, ini bulan puasa. Aku tak boleh terus-terusan childish seperti ini. Sudah bukan waktunya. Aku sudah 17 tahun. Toh sebentar lagi juga Idul Fitri datang. Aku tak bisa menolak. Minal aidzin wal faidzin ya.. mohon maaf lahir dan batin.

Sekarang waktunya buka puasa *ah* :)

No response to “Hapeku lebih berharga dari seorang teman, terus kenapa?”

Leave a Reply

Ada kesalahan di dalam gadget ini