Rabu, 19 Oktober 2011

This is my journey. I never want this memory fade away.

This isn't like a joke. You guys are admitted to laugh, or whatever you want, but this note seems like I'm still be myself, the melancholic man. There is no big change. I'm still Arief Budi Sucianto, The Mushy.

Berawal dari kehidupan yang biasa saja, kehidupan yang tak pernah terekspos oleh sorot lampu, aku beradu. Bermodal nilai UN 37,55... aku memberanikan diri mendaftar SMAN 18 dan SMAN 10 Surabaya. Awalnya aku yakin bisa masuk sana, tapi di akhir, mungkin karena Tuhan memang sengaja membuat jalur yang lebih indah buatku, aku terbuang. Untunglah masih ada kesempatan. Satu-satunya SMA Negeri yang bisa ku raih hanya SMAN 1 Taman. No more. So I wasn't had a choice. Antrean panjang dari dalam sekolah hingga gerbang luar sempat membuatku mencelos. Beginikah susahnya cari sekolah? Walhasil, hari pertama aku tak dapat formulir. But it isn't the end. Hari kedua dengan mengucap segala puji syukur, aku mendapat formulir itu. Meski tak lewat jalur antrean yang sesungguhnya. Aku dibantu beliau, sosok karib sang ayah yang hingga kini masih mengajar di sekolah itu. Thanks to him, always. Aku jadi tak perlu mengantre begitu panjang dan lama seperti yang lain. Tapi itu cukup. Sampai batas pengambilan formulir saja. Untuk selanjutnya, biar aku yang berjuang sendiri dengan otakku yang tak terasah dengan baik ini, meski pun harus bolak-balik Spentatu-Smanita naik bis ijo.

...and I had a test.

Hasilnya buruk. Skornya 19 koma sekian... Padahal itu 3 mata pelajaran. Akiu ngenes, tapi nyatanya? Aku diterima. Urutan 108, aku masih ingat. Aku masuk gugus 7, gugus pisang, dengan kakak gugus Kak Wahyu. Menjalani pra-MOS dengan lancar dengan beberapa teman baru yang nyatanya tak mudah bagiku buat bersosialisasi. Dan satu tanjakan dapat ku raih mungkin saat ku menjamah hari MOS, bersama gugus 8 bergabung dalam X-4. Ada Choirunnisa Nurdita a.k.a Dita, teman sekelasku saat SMP dulu. Di situ tambah ramai, dan parahnya mostly aku tak kenal mereka. Sekalipun dia alumni SMPN 1 Taman yang berbeda kelas. Maklum, aku kuper.

Well, MOSnya asik, meski harus kian berdebar tiap tim Diskrif masuk kelas. Tapi dari situ aku kenal mereka, para pengurus-pengurus OSIS SMAN 1 Taman yang meng-handle MOS completely. Hingga entah kenapa sejak usai MOS, aku berpikir tak ada salahnya bila aku mencoba ikut seleksi pengurus baru. Dita juga ikut, disambung Ray juga yang notabene juga teman satu kelas saat SMP.  I was so hectic since I join that. Tiap pulang sekolah selalu kumpul, dibentaki, dipelonco, sampai akhirnya... diwawancara. Begitu banyak pengorbanan waktu dan fisik yang kuberikan di saat awal. Dan saat itu pula aku merasa... lebih baik aku mundur, uda ga kuat. Karena memang proses menuju menjadi pengurus OSIS itu lamaaaaa... belum Pemantapan, LDKS, dan segala macem. Tapi aku berpikir ulang, di saat seperti itu senior yang kelas 2 kenapa masih ada yang bertahan? Sebegitu cintanyakah mereka dengan OSIS? Aku mengurungkan niatku untuk mundur. Kalau kelas 2 bertahan, kenapa aku yang kelas 1 yang bahkan belum tahu pahit-manisnya OSIS harus mundur?

Sampai akhirnya pengumuman akhir seleksi diumumkan, dan aku diterima. Dita dan Ray juga diterima. Seneng, tentu. Beberapa teman banyak yang tersisih di tengah jalan, dibuang begitu saja padahal setiap hari juga kena semprot dan bentakan dari senior kelas 3. Kasihan sih, tapi mau diapakan memangnya?

Proses selanjutnya Pemantapan dan LDKS. Aku tak mau cerita banyak, yang jelas begitu banyak hal edukatif yang ku serap selama proses penyeleksian itu. Bahkan aku sampai tak ingin melewatkan satu momen pun tuk aku tak hadir di antara mereka, para pengurus dan calon pengurus OSIS. Padahal aku masih belum kenal mereka utuh. Sungguh. Banyak di antara mereka yang bagiku asing, sungguh asing. Aku tak kenal mereka, maka aku tak pernah berbicara dengan mereka. Aku seolah-olah menjadi anak pendiam yang lingkup pergaulannya masih saja terbatas. Tapi lambat laun semua itu berubah. Kini aku mengenal mereka bagai aku mengenal siapa yang melahirkanku. So close. Dekat, erat dan tak akan mungkin terlupakan. Dan merekalah yang hingga kini mewarnai hidupku dengan tawa dan candanya. I called them Incredible. They're my second place to live after my family. I love them like I love my Mom, my Dad, and my 3 sisters. They're so close in here, my heart. So what will I tell for the next?

Fot the first, Lina. Kamu ketua OSISku. My dearest friend that had a same vision to be. Awal kelas 1 aku tak begitu kenal dirimu, kita jarang berkumpul, tapi... semenjak kelas 2? Haha. Aku masih ingat kita ditilang polisi saat putar balik di Jalan Basuki Rahmat. Kamu dengan segala pengalamanmu layaknya seorang ahli penipu, berhasil menipu polisi bahwa kita tidak sedang membawa uang. KTP, SIM pun ketinggalan. Meski berujung pungli 17.000 (atau 15.000 ya?) kita tetep nerusin jalan untuk menjalankan tugas mulai dari Mas Vicky untuk hadir di acaranya Indosat, pelatihan E.O. Aku jadi dekat dengamu saat itu, Lin. Hingga selanjutnya, beberapa acara banyak kita lalui bersama, sampai perkenalan kita dengan Brenda, Abyan dari SMAN 18. Kita jadi kenal deket dengan mereka, terutama Brenda. Masih ingatkah kamu kita diramal pakai kartu tarot oleh Brenda di rumahnya waktu malam hari? Wah, wah, kita sampai terobsesi buat beli buku dan kartu tarot seperti Brenda, mak! Bukunya masih ada loh, di kamarku. Haha.

Terus, terus, momen lain yang masih aku inget dengan kamu, yaitu saat malam sebelum GSS. Kamu nelpon aku tiba-tiba saat malem abis Maghrib. Kamu nangis, kamu bilang kamu bertengkar dengan orang tuamu. Lalu kamu minta jemput aku di Pondok Jati. This moment I love cause I feel like I'm the only one who know how your problem. But I don't know if this is the sequel of the story that you tell to Brenda and me in that night, or not. But... oh, yeah. I still remember, sistah! You're my close friend, too.

Lalu untuk Pradit. EHEM. Aku tak mengerti mau bilang apa untuk sohib satu ini. So speechless. Aku tak mengerti pula kenapa kamu bisa berubah sedemikian rupa ketika kamu merasa kehilangan. Yang aku lihat, perubahan itu datang dari dirimu sendiri. You are man. Aku juga tak tahu entah motivasi dari mana yang membangkitkanmu menjadi seorang yang sangat jauh lebih baik seperti ini. Yang pasti aku kagum. Banyak hal yang membuatku mungkin takkan pernah melupakan sosok dirimu yang dulu pendek, sekarang tinggi pesat, haha. You always accuse me that I have a revenge with you. But it's wrong, Brother. I'm just jealous. No more. Maybe you'll try to ask me what kinda jealous can I feel to you? But sorry, there is no answer for it. Tapi dibalik itu, kamu tetep jadi orang yang secara tidak langsung membuatku merasa termotivasi untuk lebih baik. You can do it, why me not? Makasih untuk selama ini, Pradit. Apa yang aku banggakan padamu mungkin tak bisa kau lakukan sebaliknya. Aku masih menjadi anak laki-laki yang melankolis, yang selalu kamu ceramahi untuk terus berubah menjadi lebih baik. But sorry I can't yet. Tapi aku akan tetap berusaha :)

The third, Amylatur.  Spesialis sponsor. Awalnya aku kira kamu pendiam, penurut, dan ga macem-macem. Sumpah deh. Mulai dari kelas 1 hingga kelas 2 awal, aku masih menganggapmu sebagai anak yang pendiam dan penurut apa kata senior. Tapi aku masih ingat satu momen yang buat pikiranku tentangmu itu salah. Kamu ternyata bisa marah, astagaaaa! =)) Kamu nggondok dan kamu minggat dari ruang OSIS dan pulang. Ngenes, tapi lihat hal yang ada di depanku ternyata aku sadar semua tak bisa dilihat dari satu kacamata saja. Everyone has their own characteristic. I'm so glad to know you. Untuk hari-hari berikutnya, aku kenal kamu sebagai Amy yang berbeda. Seorang spesialis sponsor yang handal yang bisa membuat SMANITA CUP berubah. Banyak sponsor. I love you, emmuach! Haha. Kadang aku berpikir, banyak juga ya kenalan kamu mulai dari om-om, tante-tante dan segala macem CP sponsor. Hahaha.

Aulia a.k.a Uik, you are so the most exotic friend that I ever had. Tukang muncrat, tukang ketawa, gokil, pecinta kehidupan malam, dan semua yang jorok-jorok. Haha, peace! ^^ Aku bingung mau ngomong apa. Yang aku inget, aku ga kenal kamu sedeket ini sebelum kelas 2. Dulu kelas 1 aku ngeliat kamu ya biasa-biasa aja... lewat di depan kelasmu X-6 pun aku nyapa biasa. Ga ada hal yang perlu disangsikan untuk seorang Aulia Rahmawati Mawan. Tapi sekarang, kyaaaaa, anak ini... suer deh bikin galau berkepanjangan. Kamu yang bikin aku jadi ikutan gokil, ikutan semrawut ga jelas, dan sekarang kita ga bakal sering sama-sama lagi :( Entah bagaimana aku menyikapi ini, tapi bagiku ini kamu itu sesuatu. Kamu pernah nangis, stres, gila kayak beneran pasien di Menur, saat kamu ditinggal Bodomu. Aku jadi mengambil ilmu dari situ, bila memang cinta... apa pun akan dilakukan. This is something. Sungguh.

Then, Lianita. Ketua MPK yang sipit. Hehehe. Awal pertama kali kenal Lianita itu... kelas X-8. Orangnya cuek, judes, bikin males. Dia deketnya dengan Kresna, sedangkan kalau ngomong sama aku... juteknya minta ampun. Geregetan sih awalnya, tapi setelah makin lama, makin lama, makin lama, I know that she's not like I think. She is different. Pemikiranmu yang luas dan kadang ga aku duga, bikin aku kagum. Kadang aku berpikir, wah, memang posisi Ketua MPK ga salah untuk kamu, Ling. Banyak kenangan kita bersama, kamu banyak curhat ke aku, aku pun sebaliknya. I recognized you to be a best narrator in the world. Hahaha. Alay pek. Kata-katamu secara ga langsung meracuni pikiranku. Apa yang kamu katakan, yang kamu sarankan untukku, that is so something. I love your words. Aku ga tau harus ngomong apa lagi untuk Lianita, yang jelas... aku bangga sudah kenal kenal kamu :)

Meme :) beautiful, doll-faced, dan benci saat dikentuti. This is characteristic, and I lowe you!  Kalau tidur ga bisa lepas dari yang namanya gigit jari, dan ketika dikentuti langsung aja minggat =)) Gueh suka gayah loe! Haha. Meme lucu. Meski aku juga ga begitu lama kenal kamu, but you kept in my mind, sure. Suaramu yang kalem, lelembut, sikapmu yang aku yakin ga kamu buat-buat membekas dalam pikiranku. Polos, that's it. Aku jadi inget ketika kita perijinan SMANITA CUP bareng... kamu aku gonceng, kamu curhat tentang apa yang ada di hatimu saat itu. Tentang Dzikri, tentang bagaimana masalahmu dengan orang tuamu, bagaimana kehidupanmu di rumah :') I really never want this memory fade away. Makasih ya Me, uda jadi sesuatu di dalam hidupku. :')


Erm, berhubung sudah malem, curhatnya dilanjut besok ya......BERSAMBUNG!

No response to “This is my journey. I never want this memory fade away.”

Leave a Reply

Ada kesalahan di dalam gadget ini