Minggu, 02 September 2012

Review Film Perahu Kertas


Satu kata untuk film serta novel karya Dee Lestari ini: Inspiratif. 

Saya yang sementara ini masih sebagai penikmat filmnya, dan justru 'belum' untuk novelnya, menyadari bahwa entah bagaimana caranya, impuls-impuls dari visual yang disajikan begitu merasuk ke otak dan terbenam di dalamnya begitu...menyejukkan. Sebenarnya bukan suatu hal yang aneh, bila pada akhirnya esensi cerita yang dikandung dalam film ini akan berakhir sangat impresif dan membekas ke setiap kepala penontonnya. Karena pada nyatanya karnyanya yang terdahulu yang dibungkus dalam sebuah bentuk serial berjudul Supernova sudah mampu mengikat pembacanya dengan sangat... apa ya... utuh. Mulai dari ide cerita, alurnya, gaya bahasa dan penulisan Supernova yang bisa disebut dengan 'kelas berat' itu membuat seorang Dewi 'Dee' Lestari benar-benar jadi Mother Alien dan itu membuatnya punya 'nama'. Tidak heran Perahu Kertas bisa menjadi begitu BESAR, sebelum dan setelah ditransformasikan ke bentuk visual.

Banyak perpaduan yang mengagumkan yang disajikan dengan lembut dalam film ini, membuat saya dengan sangat terhormat melumat setiap detik demi detik hingga menjadikannya seperti cairan cokelat lembut berpadu karamel nikmat dalam mulut saya. Mulai dari cinta, mimpi, cita-cita, realitas dan komedi ada dalam film yang dibagi menjadi 2 part ini.



Seorang Kugy Alisa namanya, sosok karakter yang sangat unik, yang baru lulus SMA, dan memutuskan untuk kuliah sastra di Bandung. Mimpinya untuk menjadi penulis dongeng baginya tidak realistis dan akan tetap menjadi pekerjaan sampingan di negeri ini. Dan ia percaya, bahwa tak ada tempat yang benar-benar bisa menghasilkan sebuah penghidupan hanya dari sebuah cerita dongeng.

Sampai saatnya seorang Keenan datang dalam kehidupannya, menginterupsi pikiran dan mimpinya yang sudah tertata rapi dalam benak. Menurut Keenan, ia tak perlu menjadi diri orang lain dulu, untuk bisa menjadi diri sendiri, walaupun pada akhirnya Keenan juga melakukan hal yang sama dalam melakukan perjalanan menjadi dirinya sendiri. Menjadi diri sendiri itu tidak mudah, perjalanannya berputar. Laki-laki yang ingin menjadi pelukis ini, harus rela terkekang mimpinya oleh sikap sang Ayah yang mati-matian meminta Keenan agar kuliah ekonomi. Terlepas dari pendapat kebanyakan orang yang mengatakan bahwa orang tua tidak seharusnya mengekang mimpi anak seperti itu, saya jelas menangkap satu makna di sini, bahwa ayahnya juga punya satu nilai baik menyuruh Keenan agar kuliah ekonomi, karena dialah anak laki-laki pertama yang harus bertanggung jawab kepada keluarganya apabila ayahnya telah tiada. Dan itu dibuktikan dalam adegan ketika ayahnya terkena stroke, dan Keenan menggantikan posisi ayahnya di perusahaan. Guess what? Perusahaannya mengalami banyak kerugian atas pimpinan Keenan.

Di lain sisi, saya begitu tertarik dengan kebiasaan unik Kugy yang merasa bahwa dirinya ialah agen Neptunus yang dikirim dari kerajaan laut ke bumi untuk menjadi mata-mata. Berbekal dengan selembar kertas yang telah ia tulisi dengan rangkaian kata-kata berbentuk curahan hati, ia lipat menjadi perahu, dan melayarkannya di laut, sungai, kali, atau selokan. Karena ia yakin, kemana pun air mengalir, pasti muaranya akan pergi ke laut, ke tempat Dewa Neptunus yang akan segera membaca laporannya selama hidup di bumi. Dan tak hanya itu, radar Neptunus terkadang membuat saya geli sekaligus kagum. Kedua jari telunjuk yang ditempelkan di sisi kanan-kiri kepala menjadi ciri khas Kugy yang...unik. And I just realized that semua rasa ini hanya bisa dirasakan oleh pasukan berzodiak Aquarius di seluruh dunia termasuk saya. 

Saya tidak akan membahas banyak tentang bagaimana cerita di novel bisa sedikit, atau bahkan banyak berbeda dengan yang ada di film. Karena toh saya belum selesai membaca novelnya secara keseluruhan. Seharusnya setiap orang menyadari bahwa dimensi keduanya berbeda. Novel ada tulisan, dan film adalah visual. Novel mengizinkan pembacanya untuk berimajinasi sesuai keinginan mereka, sedangkan visual menyajikan imajinasi secara nyata.. dan usaha untuk menjadikan isi novel ke dalam film sudah bisa diacungi jempol, karena tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Yang jelas film ini, recommended banget bagi yang sedang menempuh perjalanan untuk menggapai mimpinya dan bagi yang ingin tahu bagaimana cinta sejati itu.. OH ya, saya lupa beritau, bahwa kehidupan cinta di film ini begitu kompleks dengan banyak tokoh, saling jealous satu sama lain, dan pada akhir cerita nanti kita pasti tau mana cinta sejati dan mana yang bukan.



-ABS-

No response to “Review Film Perahu Kertas”

Leave a Reply

Ada kesalahan di dalam gadget ini